Tampilkan postingan dengan label tata surya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tata surya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 November 2012

Teori Planetisimal (Seri Terbentuknya Alam Semesta)

Teori planetisimal dicetuskan pertama kali oleh Thomas C. Chamberlin dan Forest R. Moulton pada sekitar tahun 1900. Teori ini menjelaskan bahwa terbentuknya tata surya disebabkan adanya bintang lain yang melintas dengan jarak yang sangat dekat dengan matahari pada masa awal terbentuknya matahari. Akibatnya terjadi tonjolan pada permukaan matahari. Efek gravitasi menarik material dari matahari berulang kali, mengakibatkan terjadinya dua lengan spiral yang memanjang dari matahari. Sebagian materi tertarik kembali, sementara sebagiannya lagi terlepas di orbit. Materi-materi yang terlepas tersebut lama kelamaan menjadi dingin dan memadat. Yang kecil disebut planetisimal dan sebagian yang besar disebut protoplanet.

Objek-objek tersebut akhirnya saling bertabrakan dari waktu ke waktu membentuk planet dan satelit. Sisa-sisa materi kemudian menjadi komet dan asteroid.

Kelemahan teori planetisimal :

Materi yang terlepas berasal dari matahari berupa gas bersuhu sangat tinggi akan terlepas bebas di luar angkasa, tidak terikat oleh gravitasi matahari.

Adanya bintang lain yang sangat berdekatan menyebabkan saling mempengaruhi gaya gravitasi yang mengakibatkan satu bintang berubah gerak orbitnya mengelilingi bintang yang lain (dengan pengertian bahwa matahari merupakan salah satu bintang), atau justru terjadi tabrakan bahkan ledakan yang sangat dahsyat akibat gaya tarik menarik kedua bintang tersebut.




Rabu, 19 September 2012

Teori Steady State (Seri Terbentuknya Alam Semesta)


Teori Steady State atau teori keadaan tetap ini merupakan teori alternatif dari teori big bang yang menjadi teori standar terbentuknya alam semesta. Teori Steady State ini menjelaskan bahwa material baru secara terus menerus terbentuk sejalan dengan mengembangnya alam semesta. Terbentuknya material baru ini mengikuti kaidah-kaidah kosmologi sempurna, yaitu homogen dan isotropis, sehingga alam semesta tetap dalam keadaan stabil (steady state).

Agar kestabilan alam semesta tetap, maka terbentuknya materi-materi baru memiliki kecepatan yang sangat lambat (para ilmuwan berpendapat 1 atom hidrogen per centimeter kubik setiap 1 milyar tahun).

Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Sir James Jeans pada tahun 1920. Teori ini kemudian disempurnakan oleh Fred Hoyle, Thomas Gold, dan Herman Bondi sekitar tahun 1948.

Teori Steady State belakangan banyak ditinggalkan sejalan dengan temuan-temuan baru dari hasil penelitian dan pengamatan dari teori terbentuknya alam semesta model big bang.



Thank's for "The Physics of The Universe"

Senin, 10 September 2012

Tata Surya : Definisi dan Teori Terbentuknya Tata Surya

Secara definitif tata surya adalah sekumpulan benda langit yang terdiri dari satu buah bintang dan semua objek yang terikat oleh gaya gravitasinya. Tata surya yang paling dekat berhubungan dengan kita adalah tata surya matahari (solar system). Tata surya matahari ini terdiri dari satu buah bintang yang disebut matahari dan planet-planet beserta benda-benda langit lain yang mengelilinginya.



Tata surya matahari atau solar system ini terbagi menjadi beberapa bagian. Bagian utama adalah matahari sebagai pusat tata surya, empat planet bagian dalam, sabuk asteroid, empat planet bagian luar. Bagian paling luar terdapat sabuk kuiper dan piringan tersebar (scattered disc). Selain itu terdapat awan Oort yang lokasinya diperkirakan di daerah terjauh yang jaraknya seribu kali di luar dari bagian terluar.

Ada beberapa teori yang menjelaskan proses terbentuknya tata surya. Bahkan hingga sekarang para ahli terus menggali pengetahuan untuk menemukan teori yang dianggap paling tepat yang menjelaskan terbentuknya tata surya. Teori-teori yang telah ada sebenarnya adalah teori hasil dari eksperimen ataupun perhitungan secara matematis. Berikut ini beberapa teori tentang terbentuknya tata surya yang terkenal :

Teori "Big Bang" (Teori Letusan atau Dentuman Besar)


Teori ini menyimpulkan bahwa tata surya terbentuk akibat adanya satu ledakan yang sangat dahsyat yang terjadi kira-kira 13.750 juta tahun lalu (perkiraan umur alam semesta). Akibat ledakan tersebut terlontar materi-materi dalam jumlah yang sangat banyak ke seluruh penjuru alam semesta. Material-material inilah yang kemudian menjadi bentuk bintang, planet, satelit, debu kosmis, asteroid ataupun partikel-partikel kosmis lainnya.

Teori ini pertama kali dicetuskan pada tahun 1927 oleh Georges Henri Edouard Lemaitre (17 July 1894 – 20 June 1966), seorang biarawan Katolik dari Belgia, ahli astronomi dan profesor fisika pada Catholic University of Louvain. Teorinya didasarkan atas teori relativitas Einstein dan asumsi-asumsi sederhana seperti homogenitas dan isotropi ruang. Teori ini kemudian dikembangkan oleh Edwin Powell Hubble (November 20, 1889 – September 28, 1953) pada tahun 1929.

Teori Nebular (Teori Kabut Tebal)


Di dalam ilmu cosmogony, teori nebular ini adalah teori yang paling luas diterima untuk menjelaskan pembentukan dan evolusi dari tata surya. Teori ini dikemukakan pertama kali oleh Emanuel Swedenborg pada tahun 1734. Pada awalnya teori ini hanya diterapkan untuk sistem tata surya matahari kita, tetapi sekarang para ahli mencoba menerapkannya untuk model alam semesta.

Teori ini menjelaskan, di alam semesta terdapat kabut yang sangat luas dan tebal yang terdiri dari gas hidrogen dan bahan-bahan masif yang membentuk gumpalan kabut raksasa (giant molecular clouds / GMC). Akibat pengaruh gaya gravitasi, molekul-molekul dari gas dan bahan masif menyatu membentuk bintang. Proses pembentukan satu bintang ini membutuhkan waktu yang sangat lama. Matahari, bintang yang terdekat dengan kita, membutuhkan waktu 100 miliar tahun untuk terbentuk secara sempurna. Kabut yang mendingin kemudian terbentuk menjadi planet-lanet dan satelit serta benda-benda langit lainnya.

Teori ini kemudian dikembangkan oleh Imanuel Kant pada tahun 1755. Menurutnya, awan kabut yang disebut nebulae yang terdiri dari debu, gas dan plasma, yang bergerak berputar, akibat secara perlahan, akibat gaya gravitasi secara bertahap bersatu membentuk bintang dan planet-planet.

Teori ini kemudian dikembangkan oleh Pierre Simon Marquis de Laplace. Menurutnya gas-gas panas yang berputar pada sumbunya membentuk cincin-cincin. Sebagian cincin tersebut terlempar keluar dan tetap berputar. Cincin yang terlempar ini kemudian mengalami pendinginan, sehingga terbentuk gumpalan seperti bola yang akhirnya menjadi planet-planet.